Minggu, 27 Juni 2010
“Tikus pun Berfilsafat”
Di dalam sebuah hutan, hiduplah seekor tikus ahli filsafat. Ia mengetahui satu hal yang tidak pernah di ketahui hewan-hewan lain. Ia yakin bahwa gelisa bisa membunuh seseorang, sebab, gelisah bisa membunuh kebahagiaan, memadamkan kilauan cahaya dan menghilangkan kenyamanan. Selain itu, kegelisahan juga bisa menghancurkan akal, hati dan fisik.
Pada suatu hari, ia ingin mengajari teman-teman dan anak-anaknya dengan pelajaran tersebut. Tetapi sang tikus tidak ingin pelajarannya sekedar di dengar dan di hafal saja. Ia ingin pelajaran itu di praktekkan dan tertanam dalam sanubari.
Ketika sedang berceramah di hadapan hewan-hewan tersebut, tiba-tiba muncullah seekor singa. Tikus sang filosof kemudian berkata. “Tuan singa, aku hendak mengatakan sesuatu. Aku berharap engkau mau memberikanku keamanan kepadaku.”
Sang singa menjawab, “Aku menjamin keamananmu, wahai tikus sang pemberani.”
Tikus kemudian berkata, “Di hadapan semua hewan-hewan inui, aku hendak menyatakan bahwa aku mampu membunuhmu jika engkau memberiku waktu sebulan penuh. Seluruh penghuni hutan ini akan melihat hal itu.”
Mendengar hal; itu singa langsung tertawa. Dengan nada mengejek, dia berkata, “Engkau mau membunuhku?”
“benar” jawab filosog tikus mantap dan percaya diri.
“aku setuju. Tetapi jika engkau tidak bisa melakukannya engkau akan ku pancung di depan semua hewan. Waktunya sebulan dari sekarang.”
“baik, aku setuju.”
Sepuluh hari telah berlalu dan singa sama sekali tidak pernah memikirkan ancaman tikus tersebut. Akan tetapi,beberapa hari kemudian, terbesit dalam hatinya, “Apa yang sebenarnya hendak dilakukan oleh tikus itu? Kenapa ia kelihatan begitu menyakinkan? Bagaimana kalau ancaman itu benar-benar terjadi?”
Beberapa saat kemudian ia tertawa jungkir balik sambil berkata, “Bagaimana mungkin si tikus itu mampu membunuhku sedangkan aku punya anak-anak yang membelaku? Walaupun ia mengerahkan seluruh tikus yang ada sekalipun. Tidak mungkin bias membunuhku.”
Beberapa hari kemudian, bisikan bisikan tersebut kembali hadir dalam benaknya. Untuk kali ini. Ia merasakan bahwa bisikan tersebut tersa lebih kuat dari sebelumnya.
Waktu terus berjalan dan batas waktu yang di tentukan hamper berakhir. Sementara itu, sang tikus tidak dating untuk mencabut pernyataanya ataupun menyerah. JUstru, filosof tikus malah terus mengumumkan ancamannya ke seluruh penghuni hutan.
MElihat kenyataan tersebut, sang singa terus berpikir, “ apakah filosof tikus mempunyai senjata yang ampuh, atau telah mengumpulkan kekuatan yang luar biasa, atau membuat jebakan yang mematikan?”
Hari demi hari berganti, dan pikiran tersebut selalu muncul hingga membuat singa tidak doyan makan dan minum. Dia selalu memikirkan nasib dan akhir yang begitu mengerikan, seperti ancaman tikus tersebut.
Sebelum hari di tentukan tiba, tepatnya pada pagi hari ke dua puluh lima, hewan-hewan menemukan singa tersebut telah mati dalam kandangnya.
Dia telah terbunuh oleh perasaan was-was dan ketakutan. Daging dan lemakya telah terbakan oleh keseddihan yang ia rasakan, padahal sang tikus tidak pernah melakukan tipu muslihat atau merancang persekongkolan apapun. Ia hanya mengetahui sebuah rahasia, bahwa menunggu musibah, memperkirakan bencana, dan was-was terhadap sebuah tragedi adalah senjata ampuh yang bias membunuh jagoan pemberani ataupun sang perkasa yang tidak kenal takut.
Kutipan dari buku “Optimislah Anda memiliki Semuanya”
“tersenyumlah”
Seorang badui menghadiri jamuan makan malam yang di adakan raja. Ketika di suguhi kambing bakar, dia segera melahapnya dengan cepat. Sang raja lantas menegur, “Engkau begitu terburu-buru makan daging itu, seolah takut ibuny akan menandukmu.”
“Engkau pun terlihat begitu saying kepada kambing ini, seolah ibunya pernah menyusuimu.” Jawab sang badui sambil terus melahap daging kambing.
Kutipan dari buku “Optimislah Anda memiliki Semuanya”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar